Fresh Drink & Food
Berbagai aroma jeruk di Citrus Café
Written by content producers    Thursday, 26 March 2009 00:00    PDF Print E-mail

Citrus (jeruk) memiliki banyak jenis. Yang menyamakan banyak jenis jeruk itu adalah rasa segarnya. Kesegaran itulah yang menjadi konsep awal Citrus Cafe yang terletak di TIS Square, Jalan MT Haryono, Tebet, dan Dharmawangsa, Jakarta Selatan ini.

LeisureRoll - Maka, jangan heran jika unsur jeruk banyak ditemukan sebagai bahan pembuat makanan di kafe ini. “Pada dasarnya kami banyak menggunakan jeruk, jenisnya macam-macam. Saus-saus barberque dan steik ada kandungan jeruknya. Kami memang ingin membuat sebuah restoran yang mencerminkan kesegaran, selain segar juga enak,” kata Sally Marlina, Manajer Operasional kafe yang berdiri sejak lima tahun lalu ini.

Awalnya, ingin menjadi sejenis kafe yang menyediakan berbagai jenis minuman dan makanan ringan untuk menemani saat-saat bersantai. “Dulu banyak (minuman) kopi dan makanan ringan, seperti sandwich dan pasta, tapi banyak yang ke sini untuk meeting sekaligus makan,” kata Novi Kusuma, Manajer Pemasaran Citrus Cafe.

Citrus mengeluarkan menu makanan berat, salah satunya adalah steik, makanan berbahan dasar daging. “Malahan steiknya jadi disukai, makanya makanan kami yang terkenal adalah steiknya,” Novi melanjutkan.

Istimewanya, steik di Citrus Cafe adalah cita rasa tradisional yang sulit ditemukan di restoran-restoran Jakarta. “Membakarnya menggunakan batu bara, jadi aromanya wangi, seperti ada aroma bakar. Biasanya kan steik dipanggang di atas pan, tidak kena api sehingga tidak ada aromanya,” ujar Sally.

Satu lagi, daging yang digunakan adalah daging sapi Australia yang tidak dibekukan. Daging itu diawetkan dengan cara didinginkan saja. Ada satu perbedaan antara daging yang dibekukan dan daging yang hanya didinginkan. Untuk daging yang dibekukan, ketika esnya meleleh, juice (saripati) daging itu juga ikut meleleh sehingga rasa gurihnya berkurang.

Meskipun terbilang menawarkan banyak makanan bule, seperti steik tadi, pasta, sandwich, salad, atau beragam sup, Citrus Cafe juga memiliki makanan tradisional, seperti asem-asem yang dimodifikasi. Jika biasanya menemukan asem-asem iga, maka di kafe ini kita menemukan asem-asem buntut yang tampilannya mirip sop buntut goreng. Masih ada satu lagi makanan dari buntut, yaitu buntut balado.

Ada pula makanan dari Asia, seperti Jepang dan Thailand yang bisa menjadi pilihan.

“Supaya kalau orang datang ke sini dengan grupnya, pasti masing-masing orang dapat makanan yang disukai,” tutur Sally. Seperti yang dikatakan Novi sebelumnya, kafe ini kerap digunakan untuk pertemuan bisnis. Maklum saja, di sekitar Citrus Cafe, terutama Tebet, banyak gedung perkantoran. Maka, selain makanan yang beragam, porsinya pun dibuat besar. “Biasanya orang kantoran makan siang langsung kenyang, jadi sore tidak perlu makan lagi,” kata Sally tentang porsi besar itu.[sh/milanovita]


Last Updated ( Friday, 27 March 2009 07:54 )